Nak, Suatu Hari Nanti, Kamu Akan Tahu bahwa Mimpi Juga Punya Harga.

Nan mungkin kelak, kamu sanggup membayarnya.

Tordennn.

Ibu, kalau sudah gede nanti, aku mau jadi dokter.
Oh ya?
Iya. Dokter yang gede.
Huh? Dokter yang gede yang seperti apa?
Ya.. yang punya rumah gede.
Terus?
Punya mobil lima!
Lima?
Iya. Satu untuk aku, satu untuk ayah, satu lagi untuk kakak, satu untuk disimpan biar keren, satunya untuk ibu kalau mau pergi.
Memangnya ibu mau pergi ke mana?
Ya enggak tahu. Pokoknya aku mau punya mobil lima.

Lalu ia tertawa. Anakku ini lucu sekali. Mungkin karena menurutnya, memiliki lima mobil adalah suatu hal yang sederhana. Seperti memiliki lima pensil warna, lima permen, atau lima mainan yang bisa disusun di lantai kamarnya.

Kalau rumahnya, mau kaya apa?
Gede banget!
Seberapa gede?
Gede sampai…

Ia berpikir cukup lama, menatap langit-langit kamar dengan mata yang berbinar.

Sampai kalau lari dari sini ke sana terasa capek sekali.
Kalau begitu, rumahnya besar sekali.
Iya. Terus kamarku dua.
Kenapa dua?
Satu untuk tidur.
Satunya lagi?
Untuk main!

Begitulah anak-anak membayangkan masa depan. Sederhana dan tanpa beban. Mereka tidak menghitung berapa biaya kuliah yang harus dikeluarkan untuk menjadi dokter. Mereka tidak tahu harga tanah, cicilan rumah, biaya sekolah, atau berapa banyak buku yang harus dibeli dan dibaca untuk mencapai sebuah cita-cita. Mereka tidak memikirkan berapa lama seseorang harus terus bekerja hanya untuk membeli sebuah mobil. Mereka hanya tahu, bahwa jika mereka menginginkan sesuatu, maka sesuatu itu mungkin akan menjadi milik mereka suatu hari nanti.

kalau mau jadi dokter, harus rajin belajar, lho.
Aku rajin kok.
Masa?
Iya. Kemarin aku baca buku.
Buku apa?
Buku gambar.
Itu bukan belajar.
Belajar juga kok.

Dan mungkin memang seharusnya begitu.
Anak-anak seharusnya boleh punya mimpi tanpa harus lebih dulu menghitung berapa uang yang tersisa di rekening orang tuanya. Mereka seharusnya cukup tahu bahwa dunia masih luas dan ada begitu banyak hal yang boleh mereka inginkan.

iya. nanti kalau sudah besar ya.

Seolah-olah kata ‘nanti’ adalah tempat yang selalu tersedia untuk siapa saja. Tidak ada yang memberitahunya bahwa belajar dengan rajin saja tidak cukup.

Sampai anak-anak itu tumbuh.

Sampai mereka mulai mengerti mengapa ada temannya yang tidak melanjutkan sekolah. Mengapa ada yang harus bekerja begitu lulus. Mengapa ada yang punya nilai sangat bagus tetapi harus berpikir berkali-kali sebelum mendaftar kuliah. Mengapa ada yang punya banyak pilihan, sementara yang lain harus memilih dengan sangat hati-hati.

Bu, aku mau kuliah di sana.
Jauh.
Tapi kampus di sana bagus, Bu.
Biayanya juga besar.

Hanya sebuah kalimat pendek. Tetapi dari sana, sebagian mimpi mulai belajar untuk menyusut dari tempatnya.

Yang sebelumnya ingin jadi dokter, mulai bertanya-tanya: apakah menjadi apa saja sudah cukup? Atau bagaimana jika tidak menjadi apa-apa — apakah tetap tidak apa-apa? Yang sebelumnya ingin melangkah jauh ke kota lain, kini melipat peta dan mencari yang paling dekat dan paling murah. Yang sebelumnya ingin membangun rumah besar, kini hanya berharap punya satu atap kecil untuk pulang — dan baginya, itu sudah sebuah keajaiban.

Tidak. Bukan berarti mereka berhenti bermimpi. Mereka hanya mulai mengerti harga dari sebuah mimpi.

Tidak ada yang memberitahu mereka sejak kecil bahwa beberapa orang tumbuh dengan ruang yang jauh lebih luas untuk mencoba. Ada yang ketika gagal bisa mengambil jeda, mengganti jurusan, pindah kota, mengikuti kursus, membeli pengalaman, dan mencoba sekali lagi. Sementara bagi sebagian orang, satu kegagalan saja sudah cukup untuk membuat segalanya runtuh karena hidup terlalu mahal untuk memberi mereka kesempatan kedua.

Kita kerap senang mengatakan bahwa semua orang punya kesempatan yang sama selama mau bekerja keras. Kalimat itu memang terdengar indah, sampai kita melihat lebih dekat. Kerja keras seseorang tidak pernah berdiri sendirian. Ia selalu ditopang oleh hal-hal yang sering kali tidak terlihat: keluarga yang bisa menunggu tanpa menuntut nafkah segera, tubuh yang sehat, tempat tinggal yang aman, atau sekadar orang tua yang mampu berkata, “kalau gagal, coba lagi, ya.”

Dan tidak semua orang punya kemewahan itu.

Ibu?
Iya?
Kalau aku sudah besar, aku bisa beli apa saja, kan?
Kalau punya uang, mungkin.
Berarti aku harus punya banyak uang, ya.

Dulu, percakapan itu mungkin terdengar polos dan lucu. Tapi semakin dewasa, kamu akan tahu bahwa kalimat-kalimat itu menyimpan getir yang sama sekali tidak jenaka.

Bu, kalau aku enggak jadi dokter gimana?

Ketika pertanyaan itu akhirnya datang, rasanya kita ingin sekali memeluknya dan berkata bahwa tidak apa-apa. Bahwa hidup tidak harus selalu persis seperti apa yang dulu digambar di buku kecilnya. Tetapi diam-diam kita tahu, ada kenyataan pahit di baliknya, kadang-kadang seseorang tidak berhenti mengejar mimpi karena ia menemukan arah baru.

Tetapi, ia berhenti karena hidup terlalu mahal untuk terus dikejar.

Ada harga pendidikan. Harga waktu. Harga kesempatan. Dan harga keberanian untuk gagal.

Jadi, Nak, jika suatu hari kamu melihat seseorang yang tidak bisa enggapai mimpinya, jangan buru-buru menganggap ia kurang berusaha. Barangkali ia hanya kehabisan bekal di tengah jalan. Kehabisan uang, kehabisan waktu, atau kehabisan keberanian setelah berkali-kali dipukul kenyataan.

Dan jika suatu hari mimpimu sendiri terasa terlalu jauh, jangan mnyalahkan dirimu sendiri. Kamu tidak malas. Kamu bukan kurang berusaha. Kamu hanya sedang berlari dari garis awal yang memang jauh lebih berat.

Lalu, jika suatu hari nanti kamu beruntung dan sampai lebih dulu di tempat yang dulu kamu impikan, jangan lupa menoleh ke belakang. Jangan pernah bertanya mengapa mereka yang tertinggal belum juga sampai.

Tanyakan saja pada dirimu sendiri,

seberapa jauh mereka harus berjalan kaki, hanya untuk mencapai garis start yang sejak awal sudah kamu pijak dengan nyaman?